Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan

Micro Four Third Belum Mati: Lumix G9 Mark II Hands-On & First Impression

Lumix G9 Mark II: Napas Baru Sistem MFT
Titik Lemah Lumix

Bertahun-tahun, sistem autofocus Lumix menjadi titik lemah. System DFD yang digunakan Lumix, sebenarnya untuk foto masih cukup-cukup saja. Namun sekarang sudah banyak fotografer yang merangkap videografer juga dan lingkungan kerja mereka menuntut autofocus yang cepat dan reliabel supaya tidak kehilangan momen.

 

Andai saja Lumix berani membuang sistem DFD dan mengadopsi Phase Detection Auto Focus (PDAF) yang lebih reliabel dan predictable, saya yakin Lumix menjadi satu langkah lebih dekat menjadi kamera yang sempurna.

 

Sampai akhirnya kejadian. Setelah cukup lama, lewat tajuk New Phase, Lumix mengadopsi teknologi PDAF di jajaran Full Frame melalui seri S5 Mark II dan S5 Mark IIX yang langsung mendapatkan respon yang sangat positif di kalangan para profesional dan para antusias.

 

Seri S5 Mark II dan S5 Mark IIX menerima banyak review positif dan menjadi salah satu kamera paling laku di tahun 2023 kemarin. Mafhum, selain sistem autofocus yang sudah jauh lebih baik, kedua kamera ini juga membawa segudang fitur untuk para videografer dan sinematografer.


Lumix Melupakan MFT?

Akhir tahun kemarin, hampir setahun setelah merilis S5II dan S5IIX, Lumix akhirnya mengumumkan generasi penerus Micro Four Third terbaru setelah GH6 mendapatkan respon yang sepertinya kurang menyenangkan.

 

Jangan salah, GH6 adalah kamera siap tempur dengan segudang fiturnya dan siap menemani kita menerjang segala hambatan hidup - jika kita tidak perlu autofocus. Ayolah, lensa sinema juga toh masih manual fokus juga. Saya akan dengan senang hati mengawinkan GH6 dengan lensa vintage dan boom: cinematic.

 

Lumix G9 Mark II 37mm; ISO 1000; F1.7; 1/250

G9 Mark II (selanjutnya ditulis G9II), akhirnya datang ke Indonesia. Seperti oasis di tengah hausnya para antusias MFT dan komunitas Lumix Owner Indonesia (LOI) yang sudah lama mendambakan rilisan terbaru dari Lumix agar sistem ini tidak mati.

 

Sepertinya cukup aman untuk bilang: Lumix belum melupakan MFT.

 

Lumix G9II: Hands On & First Impression

G9II ini adalah kamera high-end. Bisa berdiri sendiri sebagai senjata utama, G9II ini sepertinya cocok sebagai B-Cam pelengkap S5II dan S5IIX. Bodinya sama persis sehingga aksesoris yang kompatibel dengan kedua kakaknya itu, kemungkinan besar juga akan kompatibel di body G9II. Kontrol dan tombol-tombolnya juga sepertinya identik.

 

Dari segi build quality terasa kokoh khas Lumix. Cukup nyaman di genggaman tetapi perlu diingat lagi karena bodinya sama persis dengan S5II dan S5IIX, G9II ini bukanlah kamera kecil.

 

Bekerja dengan G9II di luar ruangan dengan kondisi cuaca yang tidak terprediksi juga cukup menenangkan karena bodinya sudah tahan debu dan percikan, serta dapat beroperasi pada suhu -10 hingga 40 derajat celcius.

 

Lumix G9 Mark II di 44mm; ISO 1000; F1.7; 1/250.

Autofocus G9II Sudah Bisa Dipercaya?

Dalam pengetesan singkat 10 menit saya kemarin, autofocus G9II sepertinya sudah bisa diadu dengan kompetitor dan jelas bukan lagi deal-breaker seperti generasi sebelumnya. Pulsing sudah tidak muncul dan autofocusnya cepat dan snappy untuk foto. Pada mode video, autofocus-nya cukup lengket pada subjek di video dengan mode AFC (continous AF) dengan moda Human Detection.

 

Lumix G9 Mark II di 42mm. ISO 1000; F1.7; 1/250

Perlu dicatat pengetesan ini saya lakukan untuk 1 orang subjek di depan kamera, sehingga saya tidak bisa mengetes bagaimana performa G9II apabila digunakan di kondisi keramaian seperti liputan ataupun wedding. Silahkan cari reviewnya melalui Youtube.

 

Lumix G9II Untuk Siapa?

Apakah Lumix G9 Mark II Worth It? Jawaban singkat saya: ya. Dibanderol dengan harga Rp29jutaan, jelas ini bukan kamera murah. G9II ini meski mengedepankan fotografer duluan, fitur videografinya sangat bisa mendukung lingkungan kerja profesional dengan dukungan codec yang sangat kaya, dukungan perekaman Prores 422, Real-time LUT, serta dapat merekam langsung ke SSD yang lebih efisien dibandingkan dengan CF-Express atau bahkan SD Card yang perbandingan kapasitas dan harganya yang lebih mahal.

Untuk spesifikasi lengkap Lumix G9 Mark II, silahkan ke website Panasonic Lumix.

 

Lumix G9 Mark II V-Log VS Rec 709 Conversion

Meskipun tidak memiliki active cooling (kipas) seperti S5II dan S5IIX, Lumix memiliki track record yang sangat baik dalam melawan masalah overheat dibandingkan kompetitornya. Pun begitu, perlu tetap bijak apalagi mengingat kondisi cuaca tropis Indonesia yang cenderung panas di luar ruangan.

 

Untuk perekaman pendek masih sangat aman, untuk perekaman panjang pun seharusnya aman tetapi harap tetap waspada demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


G9II ini juga cocok untuk para creator karena sudah mengadopsi teknologi Open Gate juga, mode ini memungkinkan G9II memanfaatkan seluruh ukuran sensor sehingga memudahkan untuk editing keperluan publikasi berbagai media vertikal maupun horizontal.

 

Harapan Seorang Penggemar Kere

Foto bersama Class With Lumix bersama Yudha dari AlphaWorksID

G9II adalah angin segar. Lama dinantikan, kemampuannya memang di luar ekspektasi. Sayangnya, begitu pula harganya. Apabila saya bekerja di lingkungan profesional dan saya sudah memiliki beberapa lensa MFT, saya mungkin tidak akan ragu memilihnya.

 

Sepertinya Lumix juga akan sepenuhnya meninggalkan sistem autofocus berbasis contrast detect (DFD) sehingga kemungkinan besar rilisan berikutnya juga akan mengadopsi PDAF.

 

Sampai saat ini saya masih menggunakan Lumix G85 yang sudah terbilang cukup jadul. Saya sudah punya keinginan untuk upgrade dan mungkin akan menunggu rilisan terbaru yang lebih compact dan terjangkau. Mungkin di lini GX atau G100 Mark II seperti yang dirumorkan.

 

Apabila kamera rilisan Lumix berikutnya lebih terjangkau, mengusung sensor yang lebih anyar, mampu merekam 10 bit (420 juga tidak masalah), 5-axis IBIS (mengingat Lumix pernah mengeluarkan kamera tanpa IBIS), keinginan saya untuk pindah ke brand sebelah mungkin akan dibatalkan.

Pengalaman Pemula Ikut Event Foto Model (Yamaha Photo Race) dengan Lumix G85


Ragu dan minder

Saya mendapatkan info perihal event ini di grup komunitas. Jujur saya tertarik karena pertama belum pernah, kedua ada slot gratis. Namun saya sempat ragu karena minder dengan gear begitupun skill yang saya punya.

 

Saya sudah membayangkan yang ikut event ini pasti para fotografer yang sudah terbiasa. Semua sudah jago, lengkap dengan peralatan perang yang lengkap nan mahal. Jam sudah menunjukkan 06.30, registrasi seharusnya dimulai jam 07.00 sementara saya belum memutuskan.

 

Akhirnya, dengan menarik satu napas panjang sambil meyakinkan diri, saya mengambil kamera Lumix G85, lensa Olympus 12-40mm f2.8 Pro, dan lensa jadul andalan saya canon nFD 50mm f1.4.

 

Lumix G85 | Canon nFD 50mm

Sesampai di lokasi, saya cukup lega karena ketakutan saya tidak terbukti sepenuhnya. Peserta yang ikut memang banyak yang pro tetapi ternyata saya bukan satu-satunya pemula yang ikut. Saya memerhatikan alat tempurnya juga terdiri dari berbagai lini harga dari Canon seri R terbaru sampai Canon 600D produksi 2011. Terpantau juga lensa seri GM dan Zeiss yang harganya mencapai puluhan juta, hingga lensa 7Artisans yang harganya sejutaan.

 

Yamaha Photo Race

Acara ini bernama Yamaha Photo Race, sebuah event fotografi yang dilaksanakan oleh Yamaha dan didampingi oleh Martha Suherman, fotografer profesional yang sudah sangat lama malang melintang di dunia fotografi Indonesia. Setelah registrasi, Ci Martha memberikan pengarahan soal event. Seluruh peserta mendengarkan dengan serius, sambil menyiapkan kamera, lensa, sampai perlengkapan lighting yang dibawa sendiri.

 

Yamaha selaku penyelenggara telah menyiapkan model dan property berupa Yamaha Fazzio dan Filano yang begitu imut dan menarik, serta Yamaha Nmax yang nampaknya terlalu macho untuk pria berukuran nano seperti saya.

 

Ah, kebetulan saya memang naksir sama Fazzio. Sekalian sajalah lihat-lihat.

 

Pengalaman pertama

Sebagai seseorang yang sebenarnya hanya ikut-ikutan dengan skill pas-pasan, bisa dibayangkan di lokasi saya tidak tahu apa yang ingin saya lakukan. Banyak sekali pertanyaan di kepala. Apa yang harus saya foto? Bagaimana mengatur komposisinya? Saya memotret ke arah mana? Lensa mana yang harus saya pakai? Kompor tadi sudah mati belum ya?

 

Tidak berlebihan jika saya bilang sepanjang sesi saya panik dan benar-benar clueless. Sementara para peserta lain sudah beraksi dengan lincah. Bunyi bip tanda autofocus sudah terkunci bersahut-sahutan dengan bunyi shutter yang sudah tertutup. Sementara saya, masih berdiri dengan pikiran kosong.

 

Saya akhirnya memberanikan diri memotret dan hampir semua saya lakukan dengan mengintip melalui EVF (jendela bidik kecil pada kamera). Ini saya lakukan bukan karena kondisi di luar sedang silau melainkan supaya orang lain tidak bisa melihat jeleknya foto saya.

 

Yamaha Fazzio bersama model. Lumix G85 | Canon nFD 50mm

Selain kebingungan mencari posisi, terlihat saya juga kebingungan mencari titik fokus. Terlihat di foto sebelah kanan foto saya tidak fokus ke mata model tetapi sepertinya fokus di tengah, di posisi lengan di atas batok Yamaha Fazzio.

 

"Makanya sering-sering latihan, Tyar!", saya menasehati diri sendiri dalam hati.

 

Lumix G85 + Olympus 12-40mm f2.8 Pro: Focus Hitrate

Setelah beberapa foto yang tidak fokus, saya memutuskan untuk mengganti lensa yang memiliki kapabilitas autofocus. Kali ini saya menggunakan lensa yang lebih fleksibel, 12-40mm f2.8 Pro. Lensa ini memungkinkan saya untuk mengatur komposisi lebih bebas karena bisa zoom in dan zoom out, tidak seperti lensa fix sebelumnya.

 

Setelah mengganti lensa, ternyata tetap tidak fokus.

 

Gagal fokus, literally. Lumix G85 | Olympus 12-40mm f2. Pro

Soal lensa, sebetulnya lensa Olympus ini adalah lensa yang sangat bisa diandalkan soal ketajaman dan autofocus. Di area inilah Lumix G85 menunjukkan kelemahannya. Saya sangat mencintai kamera ini, tetapi memang autofocus bukanlah area unggulnya. Teknologi Contrast-Detect DFD sepertinya sulit untuk mengimbangi momen yang serba cepat. Ditambah saya juga yang memang kurang berpengalaman jadilah mahakarya fokus meleset ini.

 

Seingat saya, saya menggunakan mode deteksi wajah-mata tetapi memang saat saya memotret, area fokus berwarna kuning yang menunjukkan kamera belum mengunci fokus dan saya sudah menembak.

 

Sepertinya saya semakin yakin untuk tidak merekomendasikan kamera ini untuk yang kebutuhan memotretnya lebih banyak. Lebih baik pilih Sony, Canon, atau pilih body Lumix S5 Mark II yang sudah menggunakan teknologi Phase-Detect jika autofocus adalah kebutuhan utama.

 

Lumix G85 | Olympus 12-40mm Pro | f2.8 | 1/2500

Soal ketajaman, combo ini menurut saya masih bisa diandalkan terutama di tempat yang cahayanya cukup. Sayang sekali saya tidak bisa hal yang sama untuk kecepatan dan akurasi fokusnya. Menggunakan Lumix G85 yang autofocusnya tidak reliabel sangat berisiko momen terlewat.

 

Olympus 12-40mm f2.8 Pro: Focal Range

12-40mm di body Micro Fourd Third berarti setara 24-80mm pada kamera Full Frame. Focal range yang cukup fleksibel untuk banyak keperluan. 12mm sudah cukuplah untuk ambil angle lebar, dan 40mm cukup sempit untuk close up.

 

Lumix G85 | Olympus 12-40mm Pro di 12mm

Mohon maaf fotonya miring dan bocor, kedua foto di atas semata untuk memberikan gambaran selebar apa angle yang bisa didapatkan dengan lensa ini.

 

Lumix G85 | Olympus 12-40mm Pro di 40mm

Di focal terjauhnya, lensa ini berada di 40mm, setara 80mm di kamera full frame.

 

Lumix G85 | Olympus 12-40mm Pro di 40mm dan f2.8

Ini adalah alasan saya membeli lensa ini. Focal range yang cukup fleksibel dan memiliki aperture (bukaan) maksimal di f2.8. Memungkinkan lebih banyak cahaya yang masuk sekaligus menciptakan separasi melalui efek blur pada background sehingga foto potret menjadi lebih menarik.

 

Untuk diingat, lensa ini dipasang di body yang sudah cukup jadul yaitu Lumix G85. Saya jadi penasaran bagaimana jika lensa ini dipasangkan di body yang lebih moderen seperti G9 atau GH6, atau mungkin G9 Mark II yang dirumorkan akan segera diperkenalkan sebagai kamera MFT pertama dari Lumix yang mengadopsi Phase Detect Auto Focus (PDAF).

 

Lumix G85 | Olympus 12-40mm Pro

Satu area yang juga menjadi kekuatan lensa ini adalah jarak fokus minimumnya yang cukup dekat. Di atas kertas, lensa ini memiliki jarak fokus minimal di 20cm. Menjadikannya cocok untuk mengambil foto close-up atau detail produk.

 

Lumix G85 | Olympus 12-40mm Pro

Saya kemudian bergerak ke spot foto Nmax. Melewati jalan Sarinah yang pagi tadi sangat ramai. Suasana 17-an masih terasa sangat kental. Sesekali lewat parade.

 

Sebelum memulai memotret, saya mengganti lensa kembali ke Canon nFD 50mm f1.4.


Lumix G85 | Canon nFD 50mm f1.4

Lumix G85 | Canon nFD 50mm f1.4

Berbanding terbalik dengan lensa Olympus 12-40 Pro yang jauh lebih moderen dan tajam, Canon nFD memiliki karakter sebaliknya: soft dan serba manual. Lensa ini tidak begitu tajam, cenderung lembut. Ini sama sekali tidak berarti bahwa lensa ini jelek. Lensa yang usianya lebih tua dari saya ini memang biasanya sengaja digunakan untuk memberi kesan nostalgik dan organik. Cocok untuk foto yang moody.

 

Lumix G85 | Canon nFD 50mm f1.4

Yang pasti, lensa Canon nFD ini jauh lebih menantang untuk digunakan. Pertama, karena ini adalah lensa manual. Kedua, jarak focalnya yang fixed di 50mm atau setara 100m di full frame. Frame menjadi sangat sempit sehingga harus mengambil dari jarak yang cukup jauh. Untuk foto outdoor, ini tidak masalah. Namun untuk penggunaan di dalam studio, ini pasti akan sangat menantang. Bahkan bisa mustahil jika ruangannya kecil.

 

Beda cerita kalau lensa ini di-adapt di body APSC atau fullframe. Frame akan lebih luas dan hasil akan lebih maksimal.

 

Lumix G85 | Canon nFD 50mm f1.4

Ci Martha dengan humble memberikan saran kepada para peserta untuk memperlakukan model dengan respect dan humanis. Kenali namanya, dan jangan ragu untuk memanggil dan mengarahkan. Saran sederhana tetapi sangat berguna untuk saya yang baru pertama memotret model ini. Saya pun mencoba mempraktekkannya dan benar saja. Model terlihat lebih rileks dan refleks saat kita panggil namanya. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih setiap dia menoleh ke saya. Terima kasih, Windy.

 

Lumix G85 | Canon nFD 50mm

Lumix G85 | Canon nFD 50mm

Lumix G85 | Canon nFD 50mm  

Acara ditutup dengan ngobrol santai di halaman Sarinah. Ci Martha memberikan tips dalam memotret dengan memerhatikan anggota gerak model seperti kaki dan tangan. Penting untuk mengarahkan pose, mengatur komposisi, serta angle agar anggota gerak seperti kaki misalnya agar terlihat lebih jenjang. Suatu tips yang seharusnya saya praktekkan di awal karena setelah diperhatikan lagi, anggota tubuh model yang saya ambil banyak yang terkena crop.

 

Ci Martha sharing sambil mempraktekkan pose

Ci Martha juga memberikan tips apabila hunting bareng seperti ini, kita bisa mengambil angle dari bawah sehingga mengurangi risiko fotografer/orang lain yang bocor alias ikut masuk ke dalam frame. Lebih lanjut jika matahari sedang silau, Ci Martha memberi tips untuk mengarahkan exposure ke wajah model dibandingkan langit.

 

Mengikuti event seperti ini ternyata seru dan mengasyikkan. Saya mendapatkan banyak sekali insight dan yang pasti berkesempatan untuk praktek langsung bersama puluhan fotografer dari berbagai genre. Terima masih Yamaha atas kesempatan ini, Ci Martha untuk sharingnya, dan tentu saja kedua model yang sangat lincah dan sabar meski diterpa sinar matahari yang cukup panas.

 

Jika ada kesempatan lain, sepertinya seru jika ikut lagi.

 

Coba cari saya

Jakarta, 20 Agustus 2023.

Pengalaman Menggunakan Lensa TTArtisan 35mm f/1.4 di Kamera Lumix (MFT)

Kesimpulan: Lensa TTArtisan 35mm f/1.4 menurut saya adalah lensa yang memuaskan untuk harga Rp1.100.000. Bahan metal membuatnya terkesan premium. Kualitas gambar yang dihasilkan juga menurut saya cukup tajam. Chromatic aberration ada, tapi menurut saya cukup terkontrol. Cincin bukaannya clicky (berbunyi) saat diputar. Cincin putar fokusnya sangat lembut. Lensa ini cocok untuk kamu yang mau belajar fotografi dan videografi dengan budget terbatas.

***

Sesuai namanya, lensa manual tidak punya kapabilitas untuk melakukan auto-focus. Lensa manual tidak memiliki kontak elektronik dengan kamera sehingga pengaturan aperture/bukaan dan fokus hanya dapat dilakukan melalui bodi lensa. Selain itu, kamera tidak akan menangkap informasi tentang bukaan diagfragma (f) sehingga pada sampel foto berikut saya hanya bisa memberikan informasi shutter speed dan ISO.

 

Seluruh foto di bawah ini telah disesuaikan dengan resolusi lebih kecil. Untuk melihat versi high resolution (1920x1080), klik foto atau klik kanan - buka di tab baru.


1. Ketajaman

Lumix G85 TTArtisan 35mm | 1/80 | ISO 200

Saya merasa ketajaman Lensa TTArtisan 35mm f/1.4 ini sangat memuaskan, apalagi kalau mengingat harganya yang terjangkau. Foto yang kamu lihat di atas adalah adalah foto langsung dari kamera (SOOC) yang belum mengalami proses manipulasi.

 

Lumix G85 | TTArtisan 35mm | 1/50 | ISO 200
 
2. DoF (Ruang Tajam) dan Bokeh

Lumix G85 | TTArtisan 35mm

Dengan bukaan maksimal di f/1.4, tentu saja kita mengharapkan ruang tajam yang bisa lebih sempit untuk memberikan efek dramatis pada subjek utama. Ruang tajam yang sempit ini juga memberikan kita kesempatan untuk mengisolasi subjek dari background.

 

Meskipun sistem MFT memang memiliki keterbatasan dari aspek blur dan bokeh ini, menurut saya blur yang dihasilkan masih cukup memuaskan terutama apabila kamu memotret dari jarak yang dekat dengan subjek. Baru-baru ini, TTArtisan mengeluarkan versi 50mm f/1.2 yang memungkinkan untuk memotret dengan ruang tajam yang lebih sempit. Sayangnya, saya belum berkesempatan untuk mencobanya.

Lumix G85 | TTArtisan 35mm

Seperti yang terlihat pada contoh foto di atas, TTArtisan 35mm f/1.4 ini menghasilkan bola bokeh yang berbentuk variatif bulat sampai bentuk mata kucing.

 

3. Chromatic Abberation (CA)

Chromatic Abberation (CA), atau biasa juga disebut fringing secara sederhana adalah munculnya warna yang tidak diinginkan pada perbatasan warna/kontras dalam foto. Biasanya CA ini berwarna ungu dan hijau. CA di lensa TTArtisan 35mm f/1.4 ini, seperti yang diharapkan dari lensa dengan harga murah - akan muncul.

 

Lumix G85 | TTArtisan 35mm | 1/80 | ISO 200

Untuk keperluan foto-foto iseng, sebenarnya CA ini tidaklah mengganggu dan memang sangat wajar apabila muncul pada foto. CA ini juga masih dapat disamarkan melalui aplikasi editing.

 

4. Pengalaman Penggunaan

Lumix G85 | TTArtisan 35mm | 1/800 | ISO 200

Sebagai orang yang belum berpengalaman dalam dunia fotografi, ini juga adalah pengalaman pertama saya menggunakan lensa manual. Pun begitu, tidak perlu waktu lama bagi saya untuk terbiasa menggunakannya.

 

Memang, sistem manual akan memperlambat dalam proses pengambilan foto dan sepenuhnya saya harus mengandalkan mata sendiri dalam menentukan apakah fokus sudah benar atau tidak. Tidak jarang fokus saya salah sasaran sehingga foto menjadi tidak dapat digunakan, tapi ini hanyalah soal latihan.

 

Kalau kamu perlu kamera untuk aksi cepat, mungkin lensa manual kurang cocok untuk kamu.

 

5. Kelebihan TTArtisan 35mm f/1.4

Lumix G85 | TTArtisan 35mm
  • Murah
  • Kualitas gambar cukup tajam
  • Ukuran kecil
  • Built quality terasa premium dan solid
  • Putaran cincin fokus yang halus.

 

6. Kekurangan TTArtisan 35mm f/1.4

Lumix G85 | TTArtisan 35mm

Saya tidak memiliki komplain yang signifikan terhadap lensa ini. Sebagai lensa yang murah, TTArtisan 35mm f/1.4 sudah sangat mengakomodasi keperluan orang-orang yang baru saja memulai fotografi.

 

  • CA kadang muncul, tapi ini memang akan terjadi pada lensa murah
  • Untuk keperluan videografi, jarak lempar fokus yang cukup jauh membuat saya sulit saat melakukan rack focus atau berpindah fokus dari satu subjek ke subjek yang lain
  • Huruf dan tanda-tanda di lensa yang di-print sepertinya akan luntur oleh waktu
  • Logo yang menurut saya kurang menarik

 

7. TTArtisan 35mm f/1.4 untuk Videografi

 

 

Lensa manual, secara umum sangat cocok untuk videografi. Lensa manual akan memberikan kesempatan untuk mengontrol secara penuh titik fokusnya. Kebanyakan lensa digital menggunakan sistem focus by wire/elektronik yang sulit dikendalikan. Lensa manual menggunakan lempar fokus yang lebih mudah.

 

Meskipun saya merasa cocok-cocok saja menggunakan lensa ini, saya merasa lensa TTArtisan ini lebih cocok untuk fotografi karena jarak lempar fokusnya yang panjang. Untuk fotografi, ini akan lebih akurat sedangkan untuk videografi, ini cukup menyulitkan untuk berpindah fokus (rack-focus).

 

8. Apakah TTArtisan 35mm f/1.4 Worth It?

Sangat. Lensa TTArtisan 35mm f/1.4 ini sangat layak dibeli. Fotografi adalah hobi yang mahal, tapi tidak harus seperti itu. Memang banyak sekali jajaran lensa yang lebih baik di luar sana, tapi harganya juga bisa sangat mahal. Untuk kamu yang baru mau mulai belajar fotografi maupun videografi, lensa ini adalah titik yang sangat cocok untuk memulai.

***

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Ditulis oleh Adityar (Instagram: @planetyar)

Planetyar@gmail.com